Orang Gila Pembunuh

Posted At 17 May 2020 20:16

Orang Gila Pembunuh

Oleh : Muttaqin Kholis Ali,S.Pd.



Namaku Giyem, janda berusia lima puluh tahun. Setelah suamiku meninggal, banyak yang mengira aku gila.

Bodoh!

Mereka tidak tahu, kalau aku hanya sedang berpura-pura gila. Dengan berpura-pura gila, aku bisa mencari uang dengan mudah.

Ya, setiap pagi buta, aku berangkat ke pasar. Di sana aku meminta uang kepada siapapun yang aku temui. Entah itu pedagang atau pembeli, semua tak lepas dari incaranku.

Dengan cara begini, aku bisa mengumpulkan uang 200-300 ribu per hari. Jelas, bagiku itu bukanlah uang yang sedikit.

Bahkan dengan berpura-pura gila, aku bisa menyekolahkan anak perempuanku. Serta punya tabungan lumayan banyak. Semua ini hanya untuk malaikat kecilku.

Malaikat kecilku bernama Galuh. Selain pintar, ia juga cantik dan penurut. Hanya saja, Galuh tak tahu apa pekerjaan ibunya. Yang ia tahu, aku bekerja di pasar, itu saja.

"Hei, Giyem! Itu baju daganganku jangan dibawa!" seru seorang penjual baju padaku.

Mendengar teriakan pedagang baju itu, aku terdiam sejenak.

"Giyem!" bentaknya lagi, kali ini suaranya lebih melengking.

Bukannya takut, aku malah menari-nari kegirangan. Sambil sesekali baju dagangannya itu, aku lempar ke udara. Lalu, kutangkap kembali, seperti seorang penjaga gawang yang sedang menangkap bola. Kulakukan itu secara berulang-ulang.

Jelas, atraksiku ini membuat orang-orang tertawa. Bukannya malu, aku malah semakin menjadi-jadi.

"Giyem, jangan dilempar-lempar begitu. Nanti rusak!" teriak pemilik baju ini, panik.

Aku berhenti sejenak, lalu menolehnya. Tanpa bicara, kusodorkan baju itu padanya.

Sigap, ia coba meraih baju itu dari tanganku. Tapi, sebelum ia berhasil menyentuhnya, aku mundur selangkah.

"Cuiih, dasar orang gila! Cepat kembalikan baju itu!"

"Uang. Mana uang," ucapku, seraya menjulurkan lidah.

"Ini! Dasar gila!" bentaknya, seraya menyerahkan selembar uang puluhan ribu.

Seperti permintaanku tadi, sepuluh ribu.

Ya, biasanya memang begitu, untuk pedagang-pedagang besar harus memberi uang sepuluh ribu, setiap hari. Sementara untuk pedagang kecil, kadang seribu atau dua-ribu. Jika mereka tidak memberiku uang, maka mereka harus siap jika dagangan mereka aku acak-acak.

Orang gila itu bebas!

Ikhlaskah mereka? Entah, aku tidak peduli akan hal itu. Yang pasti, aku juga butuh hidup. Dan, inilah cara terbaik untuk tetap bertahan hidup.

Setelah uang aku terima, kasar kulempar baju itu tepat mengenai wajahnya. Serta-merta ia menangkapnya, agar tak terjatuh ke tanah.

Perempuan itu kembali mengumpat, "Dasar wanita gila! Pergi sana!"

Umpatan, makian, segala sumpah serapah sudah tak asing lagi di telingaku. Setiap hari kunikmati, semua itu tak membuat tumbang.

Karena dengan cara seperti itulah aku mencari uang. Dengan cara seperti itulah aku bisa bertahan dari kerasnya kehidupan.

"Pergi! Jangan mendekat!" Kini seorang perempuan pemilik warung nasi berteriak mengusirku.

Bukanya pergi, aku malah masuk ke dalam warungnya. "Makan. Aku mau makan," ucapku memelas.

"Kau mau makan apa?" tanya seorang lelaki muda. Aku meliriknya sebentar.

Aku yakin pemuda ini tak pernah ke pasar. Pantas, ia ramah padaku.

"Ini .... "Aku terdiam sejenak, memilih-milih lauk yang tertata rapi di lemari kaca. "Dan ...
ini," seruku, seraya menunjuk daging ayam dan semur jengkol kesukaanku.

"Buk, bungkus buat dia. Biar aku yang bayar!" perintah pemuda itu pada pemilik warung.

Aku tersenyum.

"Baiklah, Mas," ucap pemilik warung. "Giyem kau tunggu di luar!" lanjut wanita itu.

Tak mengapa aku menunggu di luar, yang penting hari ini aku makan enak. Karena di hari-hari biasa, si pemilik warung pelit itu, hanya memberiku nasi dan sambal saja. Beruntung ada pemuda yang baik hati.

"Ini makananmu!" Pemilik warung menyerahkan bungkusan padaku.

Serta-merta kuraih bungkusan itu darinya, seraya meledek. "Weeew!"

Wanita itu mendelik. Aku tertawa terbahak-bahak.

"Dasar gila!" makinya, seraya berlalu.

***

Setelah selesai makan, aku berniat mendatangi toko sembako yang terletak di ujung pasar. Pemilik toko itu adalah orang cina yang sangat amat pelit, sudah berkali-kali tokonya kuacak-acak.

Seraya bersenandung lagu india berjudul 'tum hi ho' aku meninggalkan warung nasi itu. Sesekali aku menari-nari bak seorang artis Bollywood Sunny Leone.

Aku tak peduli orang-orang menatapku jijik. Ah, bukan! Mereka bukan jijik tapi kagum atas keluwesan tarianku.

"Maaak ...!" Seseorang memanggilku.

Tunggu! Aku sangat mengenali pemilik suara itu. Ya, suara Galuh, putriku.

Aku tersentak, aku hentikan tarianku. "Galuh?"

"Mak Galuh gila! Mak Galuh gila! Mak Galuh Gila!" Tanpa dikomando, teriakan teman-teman sekolah Galuh mencemoohku.

Sempat aku lihat netra Galuh, putriku, mengembun. Sepertinya Galuh sangat terluka akan kejadian ini. Ia tak siap menghadapi cemoohan teman-temannya.

Aku sama sekali tak pernah menyangka, Galuh dan teman-temannya akan datang ke tempat ini. Selama aku berpura-pura gila, sekalipun tak pernah kulihat anak-anak sekolah ada di pasar.

Sebelum aku bisa mengendalikan diri, Galuh berlari pergi. Aku hanya bisa termangu, menatap punggung malaikat kecilku yang kian menjauh.

Sebilah pisau telah tertancap di keping hati. Menyisakan luka yang teramat menyakitkan untukku.

Aku pasrah.

Tetiba nafasku sesak, keringat dingin keluar membasahi wajah. Ketika sebuah bus melaju dengan kecepatan tinggi, bersamaan dengan Galuh menyebrang jalan.

Ya, semua itu tertangkap jelas oleh mataku. Meski lebih cepat dari kilatan cahaya, tapi bisa kulihat. Bahkan bunyi rem bus yang berderit, terdengar seperti dentuman meriam yang menghantam tubuhku.

"Galuuuh ...!" teriakku.

Tapi, ternyata teriakanku tak merubah apa-apa. Tubuh putriku terpental jauh, saat bagian depan bus itu menghantam tubuhnya.

"Tolooong!" jerit terakhir dari malaikat kecilku.

Warna aspal berubah merah.

Senyap!

Dengan sisa tenaga yang ada, aku berlari menghampiri putriku. Tubuhnya nyaris hancur, tak bersisa. Sama sekali tak ada rintihnya, bahkan dengus nafas pun tak tersisa.

Duniaku seketika gelap!

Aku sudah tak ingat apa-apa lagi.

Seminggu setelah kepergian Galuh, aku hanya mengurung diri dalam kamar. sesekali berjalan keluar, mengelilingi kampung berusaha mencari keberadaan Galuh. Tapi, tetap tak kutemukan keberadaannya, bahkan jejaknya pun tak lagi tertinggal.

Selebihnya aku hanya bisa tertawa terbahak-bahak, berbicara pada pohon, dan menangis tanpa sebab yang jelas.

Dan hari ini, orang-orang kembali menganggapku gila. Dan hari ini, bocah-bocah itu kembali mencemoohku.

"Mak Galuh gila! Mak Galuh gila! Mak Galuh gila!"

Teriakan mereka semakin keras menggema, saat aku menari dengan jiwa yang separuhnya telah hilang ... entah kemana.


Penulis, Muttaqin, adalah Guru Komputer di SMA Negeri 1 Tambangan, InsyaAllah dapat membantu membuatkan Tulisan yang baik bagi Bapak/Ibu yang kesulitan membagi waktu untuk menulis baik buku, cerpen maupun Opini. Selain itu juga bisa membantu membuatkan Web

Share On :


Komentar

2021, Muttaqin. All Rights Reserved.