Menjawab Sentimen Negatif Terhadap Generasi Milenial

Posted At 13 June 2021 13:48

Menjawab Sentimen Negatif Terhadap Generasi Milenial

Oleh : Muttaqin Kholis Ali

Pemerhati Pendidikan

 

"Anak zaman sekarang, kerjaannya HP aja. Setiap hari nunduk terus!"

Begitu kata generasi tua saat melihat anak muda yang sedang bercengkrama dengan ponsel pintarnya. Seringkali, mereka memang melihat generasi muda sebagai generasi yang pemalas, tidak bisa diandalkan, lemah, dan ingin hal-hal serba instan. Katanya pula, generasi milenial tidak tahu kerja keras, hanya bisa rebahan, mudah putus asa dan menangis, serta tidak menghargai orang tua.

Persepsi ini tumbuh dan berkembang karena generasi tua melihat generasi milenial tumbuh bersama dengan teknologi sepanjang waktu. Mereka menganggap perkembangan teknologi terlalu memanjakan generasi milenial. Bagaimana tidak? Kalau generasi tua mengerjakan skripsi dengan bergantung pada perpustakaan dan buku cetak, generasi milenial punya internet yang memuat segudang referensi. Kalau tidak tahu cara melakukan sesuatu, generasi milenial punya YouTube yang dijuluki sebagai gudang tutorial. Kalau malas memasak atau jalan kaki, ada aplikasi ojek daring yang siap membantu.

Generasi tua tidak punya privilege tersebut. Mereka tumbuh saat teknologi tak sehebat sekarang. Dahulu, butuh lebih banyak usaha untuk melakukan aktivitas. Mungkin karena generasi milenial tidak melalui kesulitan yang dilalui generasi tua, anggapan terhadap generasi milenial menjadi negatif.

Memang terlalu berlebihan untuk menggeneralisasi generasi milenial sebagai kumpulan orang-orang pemalas dan tak bisa diandalkan. Namun, persepsi tersebut sangat manusiawi. Sebab kita tahu bahwa setiap generasi pasti selalu merasa mereka lebih baik dari generasi lainnya. Tidak percaya? Coba tengok kembali masa-masa di sekolah. Kakak kelas akan berkata angkatan mereka lebih baik dari adik kelas.

Seperti kata pepatah, jangan lihat buku dari sampulnya. Begitupula dengan generasi milenial, jangan memberi mereka citra yang tidak baik hanya karena berada di depan layar terus menerus. Sebab, ada banyak hal positif dari generasi milenial.

Seperti yang kita tahu, teknologi membuka jendela informasi dari seluruh dunia. Keterbukaan informasi ini membuat generasi milenial lebih peka terhadap isu-isu sosial yang mungkin tidak diketahui generasi tua. Beberapa di antaranya misalnya isu kesehatan mental, pelecehan seksual, hingga pentingnya hak cipta. Yang lebih hebat lagi, generasi milenial juga tak segan untuk menyebarkan edukasi tentang isu-isu terkait melalui media sosial.

Saat mempelajari isu-isu tersebut, generasi milenial biasanya bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang di internet. Terkadang, adu pendapat tidak terelakkan. Namun meski demikian, umumnya generasi milenial bisa mengatasi perbedaan dengan lebih baik daripada generasi tua. Generasi milenial mau mendengar pendapat yang berbeda dan menerimanya meski tak sependapat.

Tak hanya sampai di situ, kemudahan memperoleh informasi juga memudahkan generasi milenial mempelajari hal-hal baru. Banyak anak muda yang mempelajari keahlian baru melalui situs-situs yang menghadirkan kursus daring. Bahkan tanpa kursus daring pun, generasi milenial bisa belajar melalui artikel di sebuah situs atau media sosial. Dengan internet, generasi milenial bisa mempelajari apapun, kapanpun, dan di manapun. Berkat hal tersebut, generasi milenial jadi lebih kreatif daripada generasi tua. Tak jarang, generasi milenial mengeluarkan ide-ide yang out of the box, alias tidak biasa.

Generasi milenial juga tak mudah percaya dan menyebar hoaks seperti generasi tua. Hal ini disebabkan karena generasi milenial memiliki kemampuan literasi digital yang jauh lebih baik daripada generasi tua. Mereka bisa mengidentifikasi clickbait dan berita palsu serta menahan diri untuk tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Jadi, apakah generasi milenial itu pemalas, lemah, dan tidak bisa diandalkan? Ada dua jawaban untuk pertanyaan ini, tidak dan iya. Tidak, karena belum tentu semua generasi milenial pemalas. Iya, karena pasti ada generasi milenial yang pemalas. Pada akhirnya semua kembali lagi kepada kepribadian masing-masing, namun jangan sampai menggeneralisasi suatu generasi hanya berdasarkan sifat atau perilaku beberapa orang saja.

Share On :


Komentar

2021, Muttaqin. All Rights Reserved.