Menyoal Tren Bahasa Asing di Kalangan Remaja

Posted At 03 March 2021 16:23

Menyoal Tren Bahasa Asing di Kalangan Remaja

Oleh : Muttaqin Kholis Ali

Guru SMA Negeri 1 Tambangan

           

 

“Gue literally happy banget today! Doi nge-chat gue!”

            “So?”

            “Doi tuh cuek banget cuy! Which is, kesempatan gue di-chat doi tuh once in a lifetime!”

            Familiar dengan percakapan di atas?

            Kata anak zaman sekarang, percakapan seperti itu namanya percakapan anak Jaksel, atau anak Jakarta Selatan. Konon katanya, anak muda di daerah tersebut senang mencampuradukkan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia. Mereka melakukan hal ini dalam percakapan sehari-hari.

            Zaman sekarang, mudah sekali menemui anak muda yang menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa mencampurnya dengan bahasa Indonesia, beberapa lainnya bercakap dalam bahasa Inggris penuh. Fenomena ini sering sekali kita jumpai terutama di perkotaan. Bahkan bukan bahasa Inggris saja, melainkan bahasa asing secara umum. Namun, karena yang paling banyak ditemui adalah penggunaan bahasa Inggris, tulisan ini hanya akan fokus pada hal tersebut.

            Ada beberapa alasan yang melandasi maraknya penggunaan bahasa asing di kalangan anak muda. Pertama, masih banyak anak muda yang menganggap bahasa asing, terutama bahasa Inggris jauh lebih keren daripada bahasa Indonesia. Kalau tidak bisa bahasa Inggris, dianggap ketinggalan zaman. Karena itulah, mereka berlomba-lomba berbicara dalam bahasa Inggris ketika berinteraksi dengan teman sebaya. Penggunaan bahasa Inggris sudah menjadi sebuah prestise tersendiri di kalangan anak muda.

            Selain itu, alasan lainnya adalah anak muda yang keminggris memang tidak terbiasa berbicara bahasa Indonesia. Biasanya, mereka dibiasakan berbicara bahasa Inggris dengan orang tua sejak dini, sehingga tidak lancar berbicara bahasa Indonesia. Bahkan, ada juga anak muda yang sama sekali tidak bisa berbicara bahasa Indonesia. Bagi mereka, bahasa Inggris adalah bahasa ibu atau bahasa pertama yang dipelajari.

            Orang tua punya alasan di balik hal ini. “Saya ingin anak-anak saya bisa berbicara bahasa Inggris dengan lancar, makanya harus dibiasakan sejak dini.” Maka ketika anak-anak masih sangat kecil, mereka diajak bercakap dengan bahasa Inggris. Pun halnya dengan membaca, mendongeng, mendengar lagu, atau menonton serial televisi. Semuanya dalam bahasa Inggris.

            Lebih lanjut lagi, ketika anak semakin besar, ia akan dimasukkan ke sekolah internasional. Sekolah ini menggunakan kurikulum yang mewajibkan murid-muridnya menggunakan bahasa Inggris, seperti kurikulum Cambridge International atau International Baccalauriette. Tidak hanya kurikulum yang internasional. Di sekolah internasional, guru dan muridnya juga internasional, alias dari berbagai negara di dunia. Untuk komunikasi antarteman maupun dalam kelas dengan guru, mereka menggunakan bahasa yang lebih universal, yaitu bahasa Inggris. Belum lagi, tak sedikit ada guru yang merupakan pembicara asli bahasa Inggris. Sekolah internasional menyebabkan murid-muridnya tidak terbiasa menggunakan bahasa Indonesia, meskipun mereka sendiri orang Indonesia.

            Tidak salah, tentu saja. Orang tua memiliki maksud yang baik. Bahasa Inggris adalah salah satu bahasa penting yang banyak digunakan orang-orang dari seluruh penjuru dunia. Menguasai bahasa Inggris bisa membuka banyak kesempatan hebat, misalnya bisa berinteraksi dan berteman dengan orang-orang global, bisa mempelajari banyak hal dari internet, hingga bisa mengikuti kegiatan atau aktivitas yang ruang lingkupnya internasional. Jadi, wajar saja jika orang tua ingin anak-anaknya fasih berbahasa Inggris.

            Alasan tersebut tidak hanya berlaku untuk orang tua yang mengajarkan anaknya bahasa Inggris. Beberapa anak muda menggunakan bahasa Inggris secara penuh atau mencampurnya dengan bahasa Indonesia dengan dalih belajar. Jika belum bisa berbicara dalam bahasa Inggris sepenuhnya, tidak mengapa untuk mencampurnya dengan bahasa ibu. Namanya juga belajar, jadi mohon dimaklumi saja.

            Namun, sepenting itukah bahasa Inggris sehingga kita perlu menjadikannya sebagai bahasa ibu atau menggantikannya sebagai bahasa sehari-hari?

              Menanggapi perihal ini, kita harus melihat jawabannya dari kasus per kasus. Jika salah satu orang tua memang bukan orang Indonesia, menggunakan bahasa asing sebagai bahasa ibu adalah pilihan yang wajar. Orang tua tentu saja ingin anak bisa bercakap-cakap dengan kedua orang tuanya, karena itu pada kasus ini pilihan bahasa yang sesuai dengan kewarganegaraan salah satu orang tua adalah jawaban yang tepat. Tetapi, bagaimana jika kedua orang tua adalah orang Indonesia?

            Sebagai orang Indonesia, alangkah baiknya jika bahasa Indonesia lebih diutamakan. Sebab kita tinggal di negara bernama Indonesia, di mana kita berkomunikasi dengan orang Indonesia sehari-hari. Simpelnya, masa orang Indonesia tidak bisa berbahasa Indonesia, sih?

            Mengutamakan bahasa Indonesia bukan berarti melupakan bahasa asing seperti bahasa Inggris. Orang tua tetap bisa mengajarkan anaknya bahasa asing sejak kecil tanpa melupakan bahasa Indonesia. Menurut penelitian pakar bahasa Francois Grosjean, mengajarkan anak-anak berbicara dwibahasa sejak dini tidak akan membuat mereka kesulitan berbicara atau kebingungan. Mereka juga tidak selalu mencampuradukkan dua bahasa yang dipelajari, karena anak-anak akan berusaha berbicara dengan satu bahasa kepada orang yang tepat. Justru jika anak diajarkan berbicara dwibahasa sejak kecil, akan lebih mudah bagi mereka untuk menerapkannya hingga dewasa.

            Bicara soal bahasa Indonesia, kita seharusnya bersyukur memiliki bahasa ibu yang mempererat negara dari Sabang hingga Merauke. Baru-baru ini, beberapa masyarakat Malaysia menyampaikan rasa keberatannya terhadap akun twitter Netflix Malaysia yang lebih sering menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Melayu. Menurut mereka, hal ini tidak bisa dibiarkan karena bagaimanapun juga akun tersebut membawa nama Malaysia, oleh karena itu penggunaan bahasa Melayu adalah suatu keharusan.

            Mereka juga menengok akun twitter Netflix Indonesia yang selalu menggunakan bahasa Indonesia. Beberapa orang menyatakan rasa irinya, bahwa Indonesia memiliki bahasa yang memperkuat identitas negara. Meskipun Indonesia memiliki beragam suku dan bahasa, ada satu bahasa yang bisa menyatukan semuanya, yaitu bahasa Indonesia.

             Usai dengan bahasa asing dan bahasa Indonesia, jangan lupa dengan bahasa daerah. Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan bahasa daerah. Bayangkan saja, ada 718 bahasa daerah yang tersebar di penjuru nusantara. Mulai dari bahasa Gayo di Aceh, bahasa Sasak di Lombok, bahasa Kei di Maluku Tenggara, dan masih banyak bahasa lainnya.

            Sayangnya, beberapa dari bahasa daerah tersebut mulai punah. Tahun 2020, Kemendikbud mencatat ada sebelas bahasa daerah yang sudah punah dan enam bahasa yang hampir punah. Kebanyakan bahasa yang punah dan akan punah tersebut berasal dari Indonesia Timur, yakni Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

            Mengapa suatu bahasa bisa punah? Di Indonesia Timur, bahasa yang digunakan sangat beragam. Tiap desa bahkan bisa memiliki bahasanya masing-masing, padahal penduduk desa tidak terlalu banyak. Jika penutur suatu bahasa daerah meninggal tanpa mewariskan kemampuan berbahasanya, bahasa daerah tersebut akan punah.

            Bahasa memang sangat erat kaitannya dengan generasi penerus. Supaya suatu bahasa tetap lestari, harus ada penerus yang mampu menuturkan bahasa tersebut. Inilah pentingnya melestarikan bahasa daerah mulai dari rumah masing-masing. Orang tua sebaiknya mengajarkan anak-anaknya berbahasa daerah di samping bahasa Indonesia atau bahasa asing. Sebab sebagai bangsa yang dianugerahi kekayaan bahasa daerah, sudah sepatutnya kita berusaha melestarikannya.

            Bahasa adalah jati diri bangsa. Kita orang Indonesia, maka kita harus bisa berbahasa Indonesia. Sebagai orang Indonesia yang tersusun dari banyak suku, kita juga sebaiknya bisa berbahasa daerah. Lalu untuk menyiapkan diri di dunia global, menguasai bahasa asing seperti bahasa Inggris akan menjadi nilai plus. Baik bahasa Indonesia, bahasa daerah, maupun bahasa asing—ketiganya sama-sama penting.

            Jadi mulai hari ini, ayo kita utamakan bahasa Indonesia, kuasai bahasa asing, dan lestarikan bahasa daerah!

Penulis : Muttaqin Kholis Ali

No WA : 0822 8517 8213

Share On :


Komentar

2021, Muttaqin. All Rights Reserved.