Menulislah, Maka Kau Akan Hidup

Posted At 07 February 2021 22:27

Menulislah, Maka Kau Akan Hidup

Oleh : Muttaqin Kholis Ali,S.Pd.

 

            Jika guru atau dosen memberi tugas menulis, apa yang biasa kita pikirkan? Kesal kah? Merasa direpotkan kah? Merasa terbebani? Merasa tak tahu apa yang harus ditulis? Merasa bingung menulis kalimat pertama? Merasa, “ah, aku tidak berbakat menulis! Tulisanku tidak akan bagus, jadi aku asal-asalan saja!”.

            Kenyataannya, menulis masih menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat umum, terutama siswa dan mahasiswa. Segala bentuk tugas berupa tulisan dianggap sebagai hal yang merepotkan. Baik esai, makalah, skripsi, maupun tugas akhir. Bahkan, rasa takut pada menulis ini tak hanya dihadapi oleh siswa dan mahasiswa saja, melainkan juga pada sang pemberi tugas yaitu guru dan dosen. Ada begitu banyak guru dan dosen yang masih kesulitan mengubah kata-kata menjadi suatu tulisan utuh.

            Guru, dosen, siswa, dan mahasiswa yang tak pandai menulis itu sungguh ironis. Sebagai insan akademik yang menjunjung tinggi ilmu, sudah sepatutnya mereka tahu pentingnya menulis. Lewat menulis, insan akademik dapat mengeksplorasi suara dalam benak dan menyampaikan aspirasinya. Penyampaian aspirasi ini tak hanya berguna bagi pribadi itu sendiri, tetapi juga kepada masyarakat secara luas. Untuk insan akademik, penyampaian aspirasi berguna untuk melatih mengutarakan pendapat secara jelas dalam bentuk tulisan dan memperkuat pemahaman tentang suatu topik tertentu. Sementara itu, penyampaian aspirasi bermanfaat untuk masyarakat umum sebab isu-isu vital yang berkembang di masyarakat dapat digaungkan secara lebih luas jika ada banyak orang yang menulisnya.

            Menulis juga membuka pemahaman dan pandangan baru. Sebelum menulis, biasanya kita membaca terlebih dahulu hal-hal yang berkaitan dengan topik yang akan ditulis. Terkadang, bahkan hal-hal yang tidak relevan pun ikut terbaca. Tanpa sadar, bacaan itu membuka wawasan baru yang tak hanya berguna saat proses penulisan, namun juga untuk kehidupan kedepannya.

            Tetapi sebagai insan akademik, manfaat menulis yang paling penting adalah meningkatkan frekuensi berpikir dan meningkatkan daya ingat. Menulis membantu kita berpikir dengan sistematika yang baik. Sebab di saat menulis, otak kita bekerja keras menyusun kata dan kalimat sehingga menjadi paragraf yang mudah dibaca.Lalu ketika mempelajari suatu ilmu, pemahaman yang diperoleh akan jauh lebih baik jika ilmu tersebut dicatat. Penting sekali untuk mencatat sebab daya ingat manusia yang terbatas membuat kita menjadi sering lupa. Anjuran ini bahkan ditekankan oleh Rasulullah saw. yang berkata, “ikatlah ilmu dengan menulisnya”. Selain itu, seorang cendekiawan Afrika-Arab pada zaman Abbasiyah yang bernama Al-Jahiz pun mengatakan, “jejak goresan pena lebih abadi, sementara lisan lebih cepat berlalu.”. Kedua perkataan tersebut membawa kesimpulan bahwa menulis adalah sebaik-baiknya perekat ingatan saat menuntut ilmu. Menulis membuat ingatan terhadap ilmu yang dipelajari menjadi lebih kokoh.

Islam memang tidak sembarangan saat berbicara tentang menulis. Sebelum Rasulullah saw. dan sastrawan Al-Jahiz menekankan pentingnya menulis, Allah swt. telah terlebih dahulu menegaskannya lewat Alquran. Sebagaimana yang kita ketahui, firman pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. adalah perintah membaca. Allah swt. berfirman melalui Malaikat Jibril, “bacalah!”, yang kemudian tertuang dalam Alquran surah Al-Alaq ayat pertama. Rasulullah saw. yang saat itu belum bisa membaca terus menerus mengatakan bahwa ia tidak bisa membaca, tetapi Malaikat Jibril bersikeras menyuruhnya membaca dengan mengatakan, “bacalah!” hingga lima kali.

            Ayat pertama dari surah Al-Alaq ini menegaskan bahwa Islam sangat mengutamakan membaca dan menulis. Meski tidak disebutkan dalam ayat, kata membaca mengindikasikan ada suatu hal yang harus dibaca. Hal itu adalah tulisan yang ditulis melalui pena atau kalam dan dapat memberi tahu manusia apa yang tidak mereka ketahui, seperti yang disebutkan dalam Al-Alaq ayat 2-5, “Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah; yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

            Jika harus menyebutkan alasan mengapa guru, dosen, siswa, dan mahasiswa kesulitan menulis, maka akan ada tiga alasan utama. Pertama, mereka melihat menulis sebagai sebuah bakat yang dianugerahi oleh Allah swt. kepada orang-orang tertentu saja. Kedua, mereka tidak terbiasa menulis. Ketiga, mereka belum menemukan alasan yang memotivasi untuk menulis. Ketiga alasan ini saling berhubungan satu sama lain. Karena menganggap menulis adalah sebuah bakat yang dibawa sejak lahir, insan akademik yang menganggap diri tak memiliki bakat menulis tidak akan menulis. Oh, untuk apa aku menulis kalau tidak punya bakat? Toh, tidak akan bagus juga hasilnya. Begitulah yang biasa dipikirkan.

            Namun, kita seringkali tak sadar bahwa dalam dunia tulis-menulis, “biasa” dan “latihan” adalah faktor yang penting. Seseorang dengan bakat menulis sekalipun, jika ia tidak terbiasa menulis maka tetap akan kesulitan menulis. Tetapi, jika seseorang yang dianggap tidak memiliki bakat menulis terus mengasah keahlian menulisnya, ia akan semakin mudah menelurkan kata-kata ke dalam bentuk tulisan. Di suatu titik tertentu, ia mungkin akan dianggap sebagai seseorang yang memiliki bakat menulis.

            Agar terbiasa menulis, ada baiknya jika menulis tidak dianggap sebagai beban tugas semata. Menganggap menulis sebagai kegiatan yang hanya akan dilakukan jika diperintah itu adalah kesalahan fatal. Mengapa tidak membiasakan diri menulis setiap hari? Tumbuhkan kesadaran bahwa menulis tidak hanya untuk tugas atau pekerjaan, tetapi juga untuk kebaikan diri sendiri. Ingat segala manfaat yang bisa diberikan menulis kepada kita--memperkuat ingatan, meningkatkan daya pikir, sebagai sarana menyampaikan aspirasi, dan lain sebagainya. Jika kita mengetahui manfaat menulis dalam hidup, maka kita akan terbiasa dan menganggap menulis itu menyenangkan.

            Puncak kebahagiaan dari seseorang yang terbiasa menulis adalah mereka menikmati hidup lewat menulis. Menulis menjadikan hidup lebih berwarna, berharga, dan bermakna. Segala peristiwa yang terjadi dalam hidup dilihat melalui perspektif yang berbeda ketika kita menulisnya. Percakapan yang kita lakukan tiap pagi dengan tukang sayur mungkin terdengar sangat biasa bagi orang yang tidak menulis, namun bisa menjadi ide tulisan yang hebat jika diulik. Menulis membuat kita mengenali diri sendiri secara lebih dalam, karena saat menulis kita mengorek isi hati, perasaan, dan pikiran terdalam. Menulis menjadikan kita abadi, karena saat kita tutup usia pun, pandangan dan kebiasaan kita akan tetap hidup dalam tulisan.

            Belum lagi, menulis juga menambah kebahagiaan. Bayangkan ketika tulisan kita dibaca banyak orang dan menerima komentar positif. Bayangkan ketika orang-orang bisa memperoleh manfaat dan kebaikan dari tulisan yang kita buat. Betapa bahagianya, bukan?

            Dengan manfaat menulis yang begitu banyak, bisakah kita menolaknya? Teruntuk guru, dosen, siswa, dan mahasiswa, mulai dari sekarang menulislah setiap hari. Menulislah, meski itu bukan tugas yang harus diselesaikan. Menulislah, meski itu bukan pekerjaan yang harus dikerjakan. Menulislah, maka kau akan hidup.

Muttaqin Kholis Ali_
Penulis adalah pegiat Literasi,
Chat WA 0822 8517 8213

Share On :


Komentar

2021, Muttaqin. All Rights Reserved.