Konsep Merdeka Belajar Untuk Masa Depan Pendidikan Nasional

Posted At 13 December 2020 22:56

Konsep Merdeka Belajar Untuk Masa Depan Pendidikan Nasional

Oleh : Muttaqin Kholis Ali,S.Pd.

Guru Komputer SMA Negeri 1 Tambangan

 

            Ki Hadjar Dewantara pernah mengatakan, “...kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu "dipelopori", atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetap biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri". Melalui pernyataan tersebut, Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa setiap murid hendaknya merdeka dalam belajar. Mereka bebas mencari dan menemukan ilmu pengetahuan sendiri, tanpa tergantung dan dipaksa orang lain. Sebab, sejatinya manusia adalah makhluk yang merdeka dalam berpikir.

            Agaknya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita saat ini, Nadiem Makarim terinspirasi dari pernyataan tersebut. Pada tanggal 11 Desember 2019, ia membeberkan rencananya mengenai konsep Merdeka Belajar di hadapan para kepala dinas pendidikan provinsi, kabupaten, dan kota se-Indonesia dalam Rapat Koordinasi di Jakarta.

            Mengenai konsep Merdeka Belajar, ada beberapa gebrakan yang digagas oleh Nadiem. Gebrakan ini otomatis mengubah sistem pembelajaran di Indonesia yang telah berlangsung lama. Beberapa gebrakan tersebut adalah perubahan USBN menjadi Asesmen dan Ujian Nasional menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter, penyingkatan format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan fleksibilitas zonasi PPDB.

            Mari kita bahas gagasan tersebut satu per satu, mulai dari penggantian USBN menjadi Asesmen. Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan adanya USBN bertentangan dengan UU Sisdiknas yang justru memberi keleluasaan bagi sekolah untuk menentukan kelulusan. Dengan adanya asesmen, sekolah dapat menilai kompetensi murid dan menentukan kelulusan berdasarkan standar dan kriteria sendiri.

            Tak cukup dengan mengubah USBN, Nadiem juga mengubah Ujian Nasional (UN). Menurutnya, materi UN yang terlalu padat membebani murid, guru, hingga orangtua. Secara konteks pun, Ujian Nasional tidak begitu efektif karena hanya menguji penguasaan konten, bukan kompetensi penalaran. Banyak murid yang merasa cukup menggunakan metode hafalan dalam mempersiapkan UN, tetapi akibatnya mereka akan melupakan materi tersebut di kemudian hari.

            Gagasan berikutnya lebih fokus pada permasalahan guru selama ini, yaitu pembuatan RPP. Berapa banyak waktu yang dihabiskan guru dalam membuat RPP? Tak sebentar, tentu saja. Format RPP yang kaku dan terlalu banyak komponen rinci membuat guru tidak bebas memilih, membuat, menggunakan, dan mengembangkan pembelajaran. Ke depannya, RPP akan lebih singkat karena hanya memuat tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan asesmen.

            Terakhir, Nadiem ingin sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tetap digunakan. Namun, berkaca dari sistem zonasi pada PPDB sebelumnya, sistem zonasi yang ia rancang nanti akan lebih fleksibel untuk mengakomodasi ketimpangan akses dan kualitas pendidikan di berbagai daerah.

            Jika Ki Hadjar Dewantara menyoroti kemerdekaan belajar dari sisi murid, Nadiem Makarim mencoba menengok sisi lainnya, yaitu guru. Ia berpendapat tak ada murid yang bisa belajar dengan merdeka jika guru tidak mengajar dengan merdeka juga. Esensi kemerdekaan berpikir harus diajarkan dari guru ke murid. Sebuah motto yang mendukung pemahaman ini pun diangkat, “Merdeka Belajar, Guru Penggerak.”

            Berapa banyak guru yang tidak bisa melakukan cita-cita mengajarnya? Pada awalnya saat guru pertama kali mengajar, ia memiliki banyak mimpi dan harapan terkait proses pembelajaran. Namun, instruksi pendidikan dari level nasional seringkali menghambat mimpi dan harapan tersebut. Guru tidak memiliki kemerdekaan dalam mengajar. Cita-cita pengajaran yang sangat didambakan itu, tak jarang lenyap seiring dengan lamanya waktu mengajar.

            Mendikbud Nadiem Makarim mengerti hal ini. Urusan tetek bengek administratif memang sering sekali merepotkan guru. Fokus mereka yang seharusnya mengajar berubah menjadi mengurusi dokumen administratif. Karena itulah pada salah satu pokok kebijakan program Merdeka Belajar, Nadiem menuntut RPP hanya perlu dibuat satu halaman saja. Dengan demikian, Nadiem berharap guru dapat fokus pada kegiatan belajar mengajar sekaligus meningkatkan kompetensi.

            Program Merdeka Belajar juga akan menghilangkan anggapan bahwa guru hanya menilai murid dari angka-angka saja. Padahal, guru pun tahu persis potensi murid jauh lebih penting daripada angka-angka. Hanya saja, keadaan memaksa guru mengejar angka, bukan? Guru memang tidak pernah memiliki kemerdekaan dalam menilai. Kini, guru tak perlu khawatir lagi karena Ujian Sekolah dan Ujian Nasional diganti dengan asesmen. Alih-alih mengukur kemampuan  murid berdasarkan angka, guru akan menilai portofolio, karya tulis, atau bentuk penilaian lainnya. Guru bebas menentukan sistem penilaian yang paling tepat untuk murid-muridnya. Maka penilaian pun bisa jadi tak seragam, sebab murid memiliki bakat dan kecerdasan di bidang masing-masing.

Usai melihat sisi guru, saatnya kita melihat sisi murid. Pernahkah bertanya kepada murid, apa perasaan mereka saat belajar? Terpaksa kah? Sukarela kah? Ikhlas kah? Senang kah? Mayoritas mungkin akan menjawab terpaksa. Saya sebenarnya tidak suka matematika, bu guru. Tapi saya kan harus belajar supaya dapat nilai dan bisa lulus sekolah.

Hanya ada satu cara supaya pembelajaran bisa berjalan dengan efektif. Murid harus suka terlebih dahulu dengan hal yang akan ia pelajari. Keinginan untuk belajar harus diawali dari diri masing-masing murid, bukan diawali dari paksaan guru. Memang terdengar sulit, namun bukan berarti tak mungkin. Sebab dengan program Merdeka Belajar, masalah ini dapat teratasi.

Jika guru telah memiliki kemerdekaan mengajar, proses pembelajaran akan sepenuhnya berubah. Guru sebagai penggerak akan membawa pembelajaran ke level yang berbeda. Bukan tidak mungkin pembelajaran yang biasanya dilakukan di dalam kelas berganti suasana menjadi di luar kelas. Sistem belajar seperti ini--outing class--tak hanya meningkatkan minat belajar murid, melainkan juga membentuk karakter mereka. Bukan hanya itu, proses pembelajaran satu arah dari guru ke murid juga akan berganti menjadi diskusi antara guru dan murid. Melalui diskusi, murid dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi, dan keberanian.

Lalu, absennya Ujian Sekolah dan Ujian Nasional juga akan menguntungkan murid. Mereka tak lagi terbebani dengan pencapaian skor atau nilai tertentu. Belajar bukan lagi suatu beban, melainkan suatu cara untuk memuaskan rasa penasaran. Maka, bayangkan betapa nyaman dan menyenangkannya suasana belajar tanpa bayang-bayang nilai. Baik guru dan murid akan merasa bahagia dalam proses belajar-mengajar, bukan?

Dari rasa nyaman saat belajar, muncullah passion. Di tahap ini, murid tidak lagi menganggap pembelajaran sebagai momok yang menakutkan dan harus dihindari. Justru, mereka akan mencari-carinya untuk memuaskan hasrat akan ilmu pengetahuan. Seiring dengan bertambahnya jam terbang dalam belajar, passion ini akan berubah menjadi kompetensi dan keterampilan.

Output inilah yang diinginkan Nadiem ketika menciptakan program Merdeka Belajar. Ia ingin membentuk peserta didik yang kompeten dan siap kerja, serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat. Peserta didik yang kompeten tak akan kalah dengan sumber daya manusia yang ada di luar negeri. Sementara itu, peserta didik yang berbudi luhur akan bertahan dalam masyarakat sosial.

Kebutuhan SDM yang unggul memang masih menjadi urgensi di Indonesia. Hal ini merujuk pada hasil PISA tahun 2015 yang menyatakan rendahnya tingkat literasi Indonesia. Padahal, kemampuan literasi adalah fondasi belajar yang dapat mengukuhkan pemahaman semua jenis ilmu pengetahuan. Dan dalam menghadapi kompleksitas masa depan, murid-murid di masa sekarang memang harus mempelajari banyak hal.

Yang harus digarisbawahi adalah SDM yang berkualitas tidak melulu berpatokan pada keahlian. Mentalitas yang kuat juga harus dimiliki murid-murid saat ini. Kenyataannya, kecanggihan teknologi dan kemudahan memperoleh informasi membuat murid terbiasa dengan cara cepat dan mudah. Dengan program Merdeka Belajar, mentalitas ini diharapkan akan berubah karena murid lebih mandiri dan bertanggung jawab dalam pembelajaran.

Menengok Revolusi 4.0 mendatang, tak dapat dipungkiri bahwa program Merdeka Belajar sangat penting. Melalui program ini, guru dapat bebas berekspresi dalam mengajar--lebih sedikit urusan administratif, fokus pada kebutuhan setiap murid yang berbeda, terbebas dari bayang-bayang mengejar nilai untuk mengisi rapot, dan cara mengajar yang lebih leluasa. Sama halnya dengan guru, murid juga dapat bebas berekspresi dalam belajar. Mereka dapat mengeksplor lebih dalam materi pembelajaran yang ingin dipelajari, menjalani proses pembelajaran dengan lebih menyenangkan karena tak ada lagi Ujian Sekolah dan Ujian Nasional, menjadi gemar belajar, serta bisa lebih bebas berinovasi..

Dengan demikian, bolehlah kita mengatakan bahwa program Merdeka Belajar adalah proses pembelajaran yang paling ideal. Akhir kata, kita harus selalu berharap program ini dapat menjadi tonggak bagi majunya pendidikan di Indonesia.

Share On :


Komentar

Dian R

Seharusnya memang begini yah dek, murid tidak lagi menganggap pembelajaran sebagai momok yang menakutkan dan harus dihindari. 😊


Balas
2021, Muttaqin. All Rights Reserved.