Refleksi Hari Pahlawan, Mengurai Kepahlawanan Jenderal AH Nasution

Posted At 24 November 2020 19:45

Refleksi Hari Pahlawan, Mengurai Kepahlawanan Jenderal AH Nasution

Oleh : Muttaqin Kholis Ali,S.Pd.




Sepuluh November adalah tanggal di mana seluruh rakyat Indonesia memperingatinya sebagai Hari Pahlawan. Pertanyaannya, kenapa harus tanggal sepuluh November? Bukankah semua pahlawan berjuang tidak hanya pada tanggal itu? Untuk memahami tentang sejarah penetapan Hari Pahlawan, berikut ini adalah ulasan singkat yang dikutip dari ternate.tribunnews.com. Pada pertengahan September, tentara Inggris mendarat di Jakarta dan mereka berada di Surabaya pada 25 September 1945. Tentara Inggris tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) datang bersama dengan tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Tugas mereka adalah melucuti tentara Jepang dan memulangkan mereka ke negaranya, membebaskan tawanan perang yang ditahan oleh Jepang, sekaligus mengembalikan Indonesia kepada pemerintahan Belanda sebagai negara jajahan. Hal ini memicu kemarahan warga Surabaya, mereka menganggap Belanda menghina kemerdekaan Indonesia dan melecehkan bendera Merah Putih. Mereka protes dengan berkerumun di depan Hotel Yamato dan meminta bendera Belanda diturunkan lalu kibarkan bendera Indonesia. Pada 27 Oktober 1945, perwakilan Indonesia berunding dengan pihak Belanda dan berakhir meruncing, karena Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan tersebut. Hingga akhirnya, Ploegman tewas dicekik oleh Sidik di Hotel Yamato dan terjadi kericuhan. Sejumlah warga ingin masuk ke hotel, tetapi Hariyono dan Koesno Wibowo yang berhasil merobek bagian biru bendera Belanda sehingga bendera menjadi Merah Putih. Kemudian pada 29 Oktober 1945, pihak Indonesia dan Inggris sepakat menandatangani gencatan senjata. Namun keesokan harinya, kedua pihak bentrok dan menyebabkan Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris, tewas tertembak hingga mobil yang ditumpanginya diledakan oleh milisi. Melalui Mayor Jenderal Robert Mansergh, pengganti Mallaby, ia mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia bersenjata harus melapor serta meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan. Tak hanya itu, mereka pun meminta orang Indonesia menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas dengan batas ultimatum pada pukul 06.00, 10 November 1945. Ultimatum tersebut membuat rakyat Surabaya marah hingga terjadi pertempuran 10 November. Semangat para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan membuat Presiden Soekarno menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan. Ini ditetapkan melalui Keppres Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959.

Bicara soal pahlawan tentu banyak nama-nama yang begitu berjasa bagi bangsa Indonesia. Baik yang berjuang sebelum kemerdekaan maupun sesudah kemerdekaan. Salah satu diantara pahlawan bangsa itu adalah Abdul Haris Nasution seorang Jenderal Besar TNI (Purn.) yang berasal dari Mandailing Natal, Sumatra Utara. Dikutip dari id.wikipedia.org Jenderal Besar TNI (Purn.) Dr. Abdul Haris Nasution lahir di Kotanopan, Sumatra Utara, 3 Desember 1918 dan meninggal di Jakarta, 6 September 2000 pada umur 81 tahun. Beliau merupakan salah satu tokoh TNI AD yang menjadi sasaran dalam peristiwa Gerakan 30 September. Selamat dari upaya penculikan tersebut namun Nasution harus kehilangan putrinya Ade Irma Suryani Nasution beserta ajudannya, Lettu Pierre Tendean.

Ketika tidak menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, beliau menulis sebuah buku berjudul Pokok-Pokok Gerilya. Buku ini ditulis berdasarkan pengalamannya sendiri yang berjuang dan mengorganisir perang gerilya selama perang kemerdekaan Indonesia. Awalnya buku ini dirilis pada tahun 1953, dan menjadi salah satu buku yang paling banyak dipelajari pada perang gerilya bersama dengan karya-karya Mao Zedong pada subjek yang sama. Kiprahnya sebagai seorang prajurit sudah tidak diragukan lagi, bersama Soeharto dan Soedirman, beliau menerima pangkat kehormatan Jenderal Besar yang dianugerahkan pada tanggal 5 Oktober 1997, saat ulang tahun ABRI.

Askolani Nasution dalam sebuah seminar Satu Abad Jenderal Nasution dengan tajuk “Pak Nas dalam Bingkai Budaya Mandailing Natal” menyatakan bahwa ada banyak hal yang bisa dijadikan warisan sikap budaya dari kehidupan Pak Nas. Beberapa sikap itu antara lain :

Satu, menegakkan kebenaran dan memperbaiki kesalahan. Dalam kebudayaan Mandailing disebut dengan ungkapan tarida urat ditutupan, masopak dangka dirautan. Setelah Jenderal Sudiman wafat, TB Simatupang dan Pak Nas melakukan restrukturisasi Angkatan Perang. Tetapi menimbulkan konflik karena banyaknya campur tangan politis. Karena itu, Simatupang dan Pak Nas mendesak presiden untuk menghentikan campur tangan politisi terhadap tentara. Soekarno menolak. Pak Nas lalu menodongkan meriam ke istana. Kejadian itu yang dikenal dengan Peristiwa 17 Oktober 1952. Akibatnya, Pak Nas diberhentikan dari KASAD. Kasus ini sekaligus menjadi pelajaran bagi Pak Nas cara menghadapi Soekarno kemudian. Kejadian ini dalam budaya Mandailing disebutkan dalam ungkapan tarida urat ditutupan maksudnya, tidak boleh mempermalukan orang lain.

Dua, pada bulan Desember 1965, ada dukungan agar Pak Nas mau menjadi Wakil Presiden, bahkan mengambil alih kembali kendali ABRI dari tangan Soeharto. Tapi Pak Nas tidak menyahutinya. Bahkan tanggal 24 Februari 1966, Pak Nas diberhentikan dari jabatan Menteri Pertahanan Keamanan. Posisi kepala staf ABRI juga dihapuskan. Tapi sekali lagi, Pak Nas tetap tidak melakukan gerakan apapun. Beliau ikhlas dan tidak ingin melakukan penghianatan. Dalam falsafah Mandailing, sikap itu selaras dengan ungkapan suan tobu di bibir dohot di ate-ate. Katanya, “Saya diberi amanah untuk memulihkan keamanan negara. Bila kamu membiasakan diri untuk tidak memegang amanah, suatu saat kamu juga akan dikhianati.”

Tiga, pada tanggal 18 Maret 1966, Soeharto membersihkan kabinet dari PKI. Anggota MPRS yang pro PKI diganti, termasuk Chairul Saleh. Nama Nasution mencuat sebagai calon ketua. Tapi Nasution tetap menunggu sambutan Soeharto. Tidak mendesak, meskipun beliau masih mampu melakukannya. Dalam falsafah Mandailing ada ungkapan yang melarang orang bersikap sombong yaitu gak-gak alimponan, unduk dapotan na tartar.

Empat, pada tahun 1969, Nasution dilarang berbicara di seskoad oleh Orde Baru. Tahun 1971, ia diberhentikan dari dinas militer, dua tahun sebelum waktunya. Nasution jatuh drastis dan disebut gelandangan politik. Tapi beliau tetap sabar. Sabar menghadapi kesulitan dalam falsafah Mandailing digambarkan dengan ungkapan laklak dipajar pijor/singgalak marpora pora/muda jonjong di natigor/batu mamak di andora yang artinya kalau sudah bersikap lurus, apapun akibatnya harus bersabar.

Lima, meskipun dikucilkan setiap tahun Nasution tetap mengirim Kartu Lebaran dan permintaan maaf kepada Soeharto, orang yang justru meninggalkannya. Kartu itu tidak pernah dibalas, tapi Pak Nas terus mengirimnya. Belajarlah memaafkan, kata Pak Nas. “Jalani hidup ini apa adanya sesuai apa yang kita miliki,” kata Pak Nas kepada istrinya suatu kali. Beliau juga sering mengutip hadist, “Allah akan memberi seseorang apa yang menjadi haknya dan mencabut dari seseorang apa-apa yang bukan haknya.” Sikap seperti itu dalam kebudayaan Mandailing diungkapkan dengan pala marbada ulang margotos, selalu menjaga silaturrahmi, jangan adu kekuatan. Setiap orang harus bersikap tampar marsipagodangan, ulang sayat marsipaenekan, saling membesarkan pihak lain, jangan mengerdilkan orang lain.

Enam, Pak Nas berkali-kali berbicara tentang kesederhanaan. Bahkan ia menolak hadiah mobil dari pengusaha Hasym Ning. “Masih banyak yang lebih memerlukan,” katanya menyuruh dikembalikan. Dalam konteks kebudayaan Mandailing disebut dengan ungkapan inda tola mar andang sere, angkon mar andang jolma do. Tidak boleh bermewah-mewah, berempatilah kepada sesama. Dalam ungkapan lain disebut juga disargut jari-jari, mangantor tu botohon, maknanya harus bisa merasakan kesusahan orang lain.

Tentunya masih banyak keteladanan yang bisa kita ambil dari Pak Nas. Beberapa sikap Pak Nas di atas semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua yang juga sedang berjuang mengisi kemerdekaan dan membangun negeri ini sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Ya, jadilah pahlawan millenial! Tak harus tenar layaknya artis ibukota, namun tetaplah bergerak dan beri pengaruh positif bagi lingkungan sekitar.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mewujudkannya, apalagi di era digital seperti sekarang ini hampir semua kalangan menggunakan sosial media untuk menunjukkan eksistensinya. Dengan membuat dan membagikan konten-konten positif yang mengedukasi kita bisa menjadi pahlawan millenial. Mereka yang ahli di bidang agama bisa melakukan syi’ar lewat akun sosmednya, mereka yang ahli di bidang kesehatan bisa membagi tips-tips kesehatan bagi masyarakat luas, mereka yang suka menulis pun bisa membagikan karyanya lewat akun sosmed maupun akun digital lainnya. Dan tidak dipungkiri lagi jika kekuatan sosial media ini begitu besar pengaruhnya bagi kehidupan. Bahkan mereka yang tidak kenal pun terkadang jadi fanatik dan turut membagikan konten dari akun digital yang mereka ikuti.

Sepertinya pendidikan digital pun semakin tak terelakan lagi. Berawal dari keharusan pembelajaran jarak jauh karena mewabahnya virus Corona, kini masyarakat di berbagai belahan dunia pun terbiasa menggunakan gadget dan perangkat digital lainnya sebagai sarana untuk pembelajaran. Tak hanya bagi para pelajar, mereka yang sudah bekerja pun mulai terbiasa dengan perangkat digital untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Karena itulah digitalisasi dalam pendidikan sepertinya tak terelakkan lagi. Mau tidak mau di masa kini dan di masa yang akan datang tentu kemajuan teknologi akan semakin bergerak cepat. Maka dari itu, anak didik kita pun harus bisa menguasainya karena di tangan merekalah kemajuan bangsa ini ditentukan.

Selain mengedepankan pendidikan dalam hal teknologi, pendidikan karakter di era digital pun tetap harus jadi perhatian utama. Berita-berita tentang kemerosotan moral anak bangsa yang semakin memprihatinkan di masa kini, tentu harus jadi perhatian kita. Dilansir dari republika.co.id, data Unicef tahun 2016 lalu menunjukkan bahwa kekerasan kepada sesama remaja di Indonesia diperkirakan mencapai 50 persen. Tak berhenti di situ, kekerasan remaja pada orang tua dan guru juga tampak ramai akhir-akhir ini. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, seorang murid berani menantang, bahkan memukul gurunya. Selain kekerasan, perilaku menyimpang dari pemuda saat ini juga mengarah ke dalam seks bebas. Menurut Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM, tingkat kenakalan remaja yang hamil dan melakukan upaya aborsi mencapai 58 persen. Tak hanya itu, berbagai penyimpangan remaja, seperti narkoba, miras, dan berbagai hal lainnya juga memperburuk moral generasi muda kita.

Bagai dua sisi mata uang, era digital yang serba canggih ini bisa memberi efek positif namun bisa juga memberikan dampak yang negatif bagi mereka. Apalagi di era pembelajaran jarak jauh seperti sekarang, orang tua harus lebih hati-hati dan lebih ketat lagi dalam mengawasi putra-putrinya agar tidak terjerat ke dalam pergaulan bebas yang bisa merusak masa depan mereka.

Dengan memberikan bekal pendidikan agama, pendidikan karakter sejak dini, dan penguasaan teknologi yang baik, maka anak didik kita akan tumbuh menjadi manusia handal yang mampu menggenggam dunia. Ya, mereka akan meneruskan estafet perjuangan para pahlawan yang telah gugur mendahului kita. Mereka akan tumbuh dan berkarya lalu menjelma sebagai pahlawan millenial yang mampu membawa Indonesia menjadi lebih bersinar lagi di masa yang akan datang.

Share On :


Komentar

2021, Muttaqin. All Rights Reserved.