Digitalisasi Pendidikan, Antara Harap dan Cemas

Posted At 24 November 2020 15:51

Digitalisasi Pendidikan, Antara Harap dan Cemas

Oleh : Muttaqin Kholis Ali,S.Pd

Guru Komputer SMA Negeri 1 Tambangan

           

Dahulu, guru dan buku adalah sumber utama ilmu pengetahuan. Saat kita memiliki pertanyaan yang tidak diketahui jawabannya, guru akan menjawab pertanyaan tersebut. Saat kita ingin mencari informasi tentang sesuatu yang baru, kita akan belajar dari buku, majalah, atau koran. Perihal transfer of knowledge dan transfer of science, murid bergantung sepenuhnya kepada guru dan buku.

Saat memberi tugas, guru umumnya menyuruh murid menulis rangkuman, menjawab pertanyaan dari buku pelajaran, atau membuat kliping. Murid ditugaskan menulis rangkuman materi dari buku-buku yang hanya ada di perpustakaan. Jika ada pertanyaan di buku, jawabannya ditulis di buku tulis untuk kemudian dikumpulkan. Kemudian, murid juga ditugaskan membuat kliping dengan tema tertentu. Informasi penting dan gambar menarik digunting dari buku, koran, dan majalah, lalu kemudian disusun di kertas terpisah. 

Namun, sekarang keadaannya jauh berbeda. Meski guru dan buku masih menjadi sumber ilmu pengetahuan, dua media ini tidak lagi menjadi primadona. Proses pencarian informasi kini beralih ke internet. Mudah, cepat, dan praktis. Saat kita tidak tahu mengenai suatu hal, google saja. Akan ada ribuan informasi mengenai hal tersebut yang bisa kita baca. Prosesnya pun jauh lebih cepat dan mudah daripada bertanya kepada guru atau menyortir informasi dari buku-buku di perpustakaan.

Tugas yang diberikan guru pun berbeda. Saat ini, tugas yang dibebankan kepada murid jauh lebih beragam. Ada presentasi dalam bentuk PowerPoint, makalah yang ditulis di Microsoft Word, hingga poster atau video kreatif yang harus diunggah ke internet. Beberapa guru ada yang memberi tugas kliping, namun alih-alih mencari gambar di majalah atau koran, murid justru mencari gambar dari internet dan mencetaknya.

Jika melihat perbedaan pelajar dan cara belajar pada beberapa paragraf di atas, kita mungkin bisa langsung mengetahui apa yang melandasi perbedaan tersebut. Ya, teknologi. Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi semakin canggih. Pembelajaran, baik di sekolah atau secara mandiri di rumah pun berubah.

Teknologi memiliki banyak manfaat dalam pendidikan. Salah satunya adalah efek visualisasi yang ditimbulkan. Dengan presentasi PowerPoint dan gambar ataupun video yang ditampilkan melalui proyektor, murid bisa belajar dengan menyenangkan dan interaktif. Suasana pembelajaran dalam kelas menjadi lebih hidup. Dengan demikian, murid terbantu memahami konsep dengan lebih mudah.

Selain itu, keunggulan utama dari penggunaan teknologi dalam pendidikan adalah kemudahan mengakses informasi. Dengan internet, murid bisa memperoleh ilmu pengetahuan baru yang mungkin bahkan belum diketahui gurunya. Tak hanya itu, informasi yang bertebaran di internet juga bisa menjadi sumber daya yang berguna bagi murid tatkala menyusun sebuah proyek riset atau melakukan diskusi materi.

Meski memiliki banyak kelebihan, teknologi juga membawa dampak negatif bagi murid dalam proses pembelajaran. Kemudahan mencapai informasi bisa menjadi hal yang baik, tetapi tak menghindarkan hal-hal buruk terjadi. Karena generasi muda terbiasa dengan informasi yang sangat mudah diperoleh, mereka menjadi generasi yang mencintai keinstanan dan kepraktisan.

Saat kita membutuhkan suatu informasi, kita akan mendapatkannya dengan mudah di laman pencarian google. Kita hanya perlu menulis kata kunci dari informasi yang ingin diketahui. Tak perlu menunggu lama. Hanya beberapa detik, informasi yang kita butuhkan akan muncul.

Bukankah itu terlalu mudah? Dahulu, orang harus menjelajahi perpustakaan untuk mencari informasi. Mengumpulkan semua buku, majalah, atau koran yang dibutuhkan. Itu pun bisa saja ketemu dan bisa saja tidak. Namun sekarang, google akan memberi jawaban yang kita inginkan hanya dalam hitungan detik.

Tak heran banyak murid yang menjadikan google sebagai jalan pintas. Ketika guru memberi tugas berbentuk pertanyaan, tulis saja pertanyaan tersebut di Brainly. Maka, orang-orang akan menjawabnya dengan sukarela. Ketika guru memberi tugas menerjemahkan ke bahasa Inggris, tulis saja bahasa Indonesia-nya di Google Translate. Sistem akan menerjemahkannya secara otomatis untuk kita, dengan tata bahasa yang hampir benar. Ketika guru memberi tugas matematika, foto saja soalnya di Photomath atau Wolfram Alpha. Mereka akan menjawab soal matematika yang rumit, lengkap dengan cara pengerjaannya!

Berbeda dengan mencari informasi di buku, pencarian informasi di internet membuat murid lebih sedikit menyerap materi pelajaran. Sebab saat mencari informasi di buku, umumnya kita juga menemukan informasi yang lainnya. Ada informasi lain yang kita serap ketika berusaha mencari suatu informasi tertentu, meski terkadang hal tersebut tidak relevan dengan informasi yang kita inginkan. Namun, saat mencari informasi di google, kita hanya akan menemukan informasi yang ingin diketahui. Sebab, algoritma google sudah mengatur informasi yang kita terima akan sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Informasi yang bertebaran di internet juga menyebabkan peran guru berubah, dari pengajar menjadi fasilitator. Guru tidak lagi menjadi pusat ilmu pengetahuan, melainkan hanya membuka ruang diskusi dan menemani murid selama pembelajaran. Jika hanya mengandalkan ilmu dari guru, murid bisa ketinggalan karena bisa saja mereka lebih update, terutama mengenai informasi terkini dan cara menggunakan perangkat digital. Saat ini, tak jarang ada murid yang kritis terhadap materi yang diberikan guru. Hal ini biasanya terjadi karena murid sudah terlebih dahulu mengetahui materi yang diberikan guru.

Murid boleh bertambah kritis, tetapi ada kekurangan di balik itu. Karena menganggap guru tidak lebih pandai daripada murid, martabat guru di hadapan murid pun tak lagi sama seperti dulu. Guru tak lagi dijunjung tinggi dan dihormati sebagai seorang yang sangat berilmu, tetapi hanya sebagai seseorang yang lebih tua dan berpengalaman. Untuk mengatasi hal ini, guru juga harus mengejar ilmu pengetahuan murid dengan update informasi terbaru dan cara menggunakan perangkat digital.

Saat melihat dampak positif dan negatif teknologi dalam pendidikan, kita juga harus menyoroti cara murid menulis. Dulu, tidak semua murid memiliki buku pelajaran. Karena itulah, banyak guru yang memutuskan untuk mendikte materi dalam buku, lalu murid harus mencatatnya di buku tulis masing-masing. Cara belajar seperti ini memang hanya membuat murid memahami teori, tetapi mereka belajar. Ketika menulis materi dari buku pelajaran, murid menyimpan apa yang mereka tulis dalam otak.

Hal ini tentu saja berbeda dengan murid zaman sekarang yang menggunakan komputer atau ponsel pintar untuk mengetik. Penelitian menunjukkan, manusia menyimpan lebih banyak ilmu pengetahuan saat menulis tangan daripada mengetik. Menulis tangan membantu seseorang mengingat dengan lebih efektif. Sebab saat menulis tangan, kita lebih fokus membaca dan menghafal kata-kata yang harus ditulis, menggerakkan otot-otot tangan, memindahkan bayangan tulisan di otak ke tangan, dan berhati-hati agar tidak membuat kesalahan.

Sebagai alternatif dari mengetik, beberapa murid juga hanya melakukan tangkapan layar (screenshot) setiap kali mereka mencari informasi baru dari google. Harapannya, jika mereka membutuhkan informasi tersebut, mereka bisa mencarinya di folder screenshot dalam galeri handphone. Namun, itu hanyalah ekspektasi. Realita yang terjadi adalah informasi yang kita tangkap layarnya, semua screenshot tersebut, umumnya tidak pernah dibuka kembali. Boro-boro dibaca, kita mungkin hanya akan melihatnya sekali seumur hidup sebelum mengirimnya ke recycle bin.

Baru-baru ini, ada juga video dari TikTok yang menunjukkan cara mudah mencatat materi dari guru tanpa menulis, terutama saat pembelajaran dari rumah. Cara yang digunakan adalah menggunakan fitur voice typing. Ketika guru menjelaskan materi dalam platform online meeting seperti Zoom atau Google Meets, fitur voice typing dari Google Docs akan mengubahnya menjadi bentuk tulisan.

Lihat, satu lagi jalan pintas dari generasi muda yang haus akan cara instan. Jika murid tidak pernah menulis, maka bagaimana mereka bisa belajar? Bagaimana menjadikan pembelajaran sebagai ingatan seumur hidup?

Tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi membawa banyak kebaikan untuk dunia pendidikan, mulai dari kemudahan mengakses informasi hingga menyampaikan materi. Namun, ada harga yang harus dibayar di balik keuntungan tersebut. Relasi antara guru dan murid yang berubah, murid yang terbiasa dengan cara instan saat mengerjakan tugas dan mencari informasi, serta murid yang tidak bisa mengingat secara jangka panjang karena tak terbiasa menulis--semua itu adalah tantangan baru yang harus dihadapi guru abad 21. Karena itulah, guru harus  mempertimbangkan penggunaan teknologi yang tepat dan efektif dalam pembelajaran. Baik teknologi dan cara tradisional, keduanya sebaiknya selaras dalam pendidikan.

Share On :


Komentar

2021, Muttaqin. All Rights Reserved.