Menyikapi Secara Bijak Wacana Kenormalan Baru

Posted At 13 June 2020 06:23

Menyikapi Secara Bijak Wacana Kenormalan Baru

Oleh : Muttaqin Kholis Ali,S.Pd.

Kenormalan baru adalah kebijakan yang diambil untuk mengatasi COVID-19. Setelah sebelumnya diberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Besar Besaran), kenormalan baru dianggap sebagai langkah yang tepat setelah berbagai dampak yang dirasakan masyarakat di berbagai aspek kehidupan. Kenormalan baru adalah skenario yang bertujuan untuk mempercepat penanganan COVID-19 dari segi kesehatan dan sosial-ekonomi.

Kebijakan ini diberlakukan di sejumlah negara untuk mengatasi pandemi COVID-19 yang sedang terjadi. Lalu bagaimana di Indonesia? Pemerintah Indonesia telah mengumumkan bahwa akan memberlakukan kenormalan baru dengan mempertimbangkan studi epidemiologis dan kesiapan regional. Pengambilan kebijakan ini sudah dipikirkan secara matang oleh berbagai pihak berwenang, salah satunya menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Berbagai mekanisme penilaian juga sudah mulai diusulkan menurut Kemenko seperti pengembangan penyakit, kapasitas kesehatan, dan pengendalian virus.  Tak hanya itu, masing – masing kementerian / lembaga, tingkat disiplin publik dan respon publik terhadap cara bekerja dan cara bersosialiasi juga diperhatikan kesiapannya. 5 level scoring juga diterapkan di beberapa daerah di Pulau Jawa, seperti krisis, tingkat keparahan, substansial, sedang dan rendah. Kenormalan baru bisa diberlakukan di pemerintah daerah apabila daerah tersebut berada di tingkat moderat atau sedang.

Melihat rencana pemerintah untuk memberlakukan kenormalan baru, hal ini ditanggapi baik oleh pemerintah Banyuwangi. Bupati Banyuwangi menyadari bahwa memang kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan berlangsung terlalu lama. Meskipun pelayanan publik bisa dilakukan secara online, namun kantor pelayanan publik masih tetap membutuhkan petugas agar kinerja bisa maksimal. Sektor pelayanan publik di Banyuwangi sudah bersiap untuk memberlakukan kenormalan baru dan untuk pelaksanannya tinggal menunggu komando dari Pemerintah Pusat.

Era kenormalan baru adalah kondisi dimana kebersihan dan kesehatan harus lebih diperhatikan. Persiapan yang dilakukan untuk menerapkan kenormalan baru ini berupa menyiapkan alat – alat penunjang kesehatan misalnya hand sanitizer, pemindai suhu tubuh, sanitasi yang layak dan penggunaan masker bagi semua orang dan alat pelindung diri bagi petugas. Tak hanya itu, setiap hari ruangan akan dibersihkan menggunakan disinfektan dan masyarakat yang datang dan tidak memakai masker tidak diperbolehkan masuk ruangan. Banyuwangi merupakan salah satu pemerintah daerah yang menyambut baik rencana pemerintah, namun bagaimana dengan daerah lainnya?

Kesiapan di setiap daerah untuk menyambut kenormalan baru tentu berbeda – beda karena kasus penyebaran virus COVID-19 tidaklah sama di setiap daerah. Meskipun termasuk kota kecil, Jember  tercatat memiliki 33 orang yang dinyatakan positif COVID-19 berdasarkan data dari Pemkab Jember. Sedangkan di Probolinggo tercatat memiliki 89 pasien yang dinyatakan positif COVID-19 per tanggal 29 Mei 2020. Sehingga, apakah daerah ini dikatakan siap untuk menyambut kenormalan baru sedangakan kasus penyebaran masih diduga terjadi karena korban yang dinyatakan positif terus bertambah? Era kenormalan baru harus benar – benar disosialisasikan dan masyarakat diharapkan peduli dengan kebijakan yang diambil pemerintah ini.

Bertambahnya korban yang dinyatakan positif terjangkit virus COVID-19 tentu meresahkan warga di sekitarnya. Pasalnya, virus ini bisa menyebar melalui udara dan interaksi langsung antar manusia. Di sisi lain, nampaknya pandemi yang terjadi tidak menggugah kesadaran masyarakat untuk menjaga diri dengan menggunakan masker, rajin mencuci tangan, tidak bersentuhan, tidak bergorombol dan berbagai protokol kesehatan lainnya.

Terbukti dari banyak foto yang viral tatkala lebaran akan tiba. Masih banyak sekali masyarakat yang datang ke pusat perbelanjaan hanya untuk membeli baju baru dan tidak peduli dengan protokol kesehatan sehingga mereka tetap bergerombol dan tidak menerapkan social distancing. Foto gerombolan masyarakat yang memadati pertokoan atau pusat perbelanjaan ini bisa menjadi tolak ukur pemerintah mengenai kurangnya kesadaran dan kepatuhan masyarakat pada kebijakan pemerintah yang diambil.

Pandemi COVID-19 tak kunjung usai karena rantai penyebaran virus ini belum mereda. Seharusnya, saat kurva peningkatan pasien yang dinyatakan positif menurun, barulah era kenormalan baru diberlakukan. Hal ini tentu tidak sejalan dengan kondisi di tengah masyarakat dimana masyarakat masih tidak mematuhi protokol kesehatan seperti menggunakan masker, rajin mencuci tangan, tidak bergerombol, dan lain – lain.

Jika era kenormalan baru juga diberlakukan di sektor pendidikan, apakah murid – murid juga siap menerima kondisi ini? Entah seperti apa proses pembelajaran yang sudah disiapkan di era kenormalan baru. Apakah setiap murid wajib memakai masker, tidak boleh naik angkutan umum atau berbagai aturan kesehatan lainnya. Tetapi, menurut salah satu guru SD, apakah anak – anak bisa mematuhi aturan ini? Namanya juga anak – anak, pasti mereka juga tidak mudah untuk tidak bermain bersama teman – temannya, tidak bergerombol dan pasti interaksi diantara mereka juga meningkat dan mungkin penyebaran virus terus terjadi.

Kasus pasien yang dinyatakan positif di kalangan anak – anak juga meningkat. Contohnya di NTB, tercatat 86 anak dinyatakan positif terjangkit virus ini hingga Kamis, 28 Mei 2020 berdasarkan informasi dari Kompas.com. Dari total 86 anak, 51 anak berasal dari rentang usia 5-18 tahun. Sehingga, membiarkan anak – anak kembali ke sekolah, apakah merupakan kebijakan yang tepat? Belajar dari rumah dengan memanfaatkan teknologi dan internet adalah salah satu cara efektif di bidang pendidikan jika kondisi pandemi di Indonesia masih seperti ini.

Sebelum menerapkan kebijakan kenormalan baru, Kementerian Kesehatan menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 mengenai Panduan Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri untuk mendukung keberlangsungan usaha di situasi pandemi. Protokol kesehatan di lingkungan industri dan bagi pekerja ini sangat penting sekali karena dunia usaha dan masyarakat pekerja adalah salah satu kontribusi yang bisa diandalkan untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini.

Peraturan Pemerintah nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai upaya percepatan penanganan COVID-19 telah menyatakan, PSBB dilakukan dengan meliburkan tempat kerja. Di sisi lain, kondisi ini tidak bisa diberlakukan selamanya karena roda perekonomian harus tetap berjalan. Kondisi pandemi COVID-19 yang tidak kunjung mereda membuat upaya baru yang harus dilakukan yaitu dengan adanya kebijakan kenormalan baru ini. Dengan begitu, masyarakat bisa beradaptasi dengan perubahan pola hidup di situasi COVID-19.

Seiring dengan diberlakukannya kebijakan kenormalan baru, masyarakat yang merasakan dampak COVID-19 ini bisa segera bangkit dari segi ekonomi. Pasalnya, semenjak diberlakukan PSBB, banyak masyarakat yang mengeluh dan merasakan dampak signifikan dari segi ekonomi dan pendapatan mereka menurun drastis. Kebijakan kenormalan baru diharapkan pemerintah bisa menekan dampak sosial dan ekonomi masyarakat. Koordinasi yang baik dari masyarakat serta sosialisasi dan kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan untuk kebaikan bersama.

 


Pemberlakukan PSBB telah membuat banyak tempat kerja tutup dan meliburkan karyawannya. Era kenormalan baru diharapkan bisa membuat roda perekonomian kembali bangkit. Sehingga, ada beberapa sektor yang direncakan pemerintah akan terlebih dahulu dibuka saat skenario kenormalan baru diterapkan. Sektor – sektor tersebut tentu telah memiliki izin operasi dari Kementerian Kesehatan.

Sektor industri adalah salah satu sektor yang akan memberlakukan kebijakan kenormalan baru. Selain itu, menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, sektor selanjutnya adalah sektor pariwisata. Pemerintah akan mengatur supaya restoran dan hotel bisa mulai dibuka meskipun kapasitasnya dibatasi. Sektor selanjutnya yaitu sektor perhubungan.

Tak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan sektor lain untuk beroperasi seperti sektor manufaktur, perkebunan dan perdagangan khususnya pasar tradisional. Khusus pasar tradisional, pembicaraan sudah dilakukan antara gubernur dan pemimpin daerah. Alasannya karena pasar tradisional bisa menjadi daerah rawan penyebaran virus. Pembukaan pasar tradisional akan dilakukan berdasarkan pada indikator daerah hingga perkembangan kasus di daerah tersebut.

Era kenormalan baru bukan berarti membiarkan kondisi dan situasi seperti sedia kala sebelum virus COVID-19 menyebar dan memakan banyak korban di Indonesia. Kebijakan ini diambil dengan tujuan agar masyarakat bisa bangkit kembali dari segi ekonomi dan sosial dengan lebih memperhatikan kondisi kesehatan dan kebersihan. Kerja sama yang baik dari berbagai pihak sangat diperlukan, khususnya kesadaran masyarakat untuk mengikuti kebijakan pemerintah sangatlah penting. dengan harapan, rantai penyebaran virus ini bisa segera berakhir dan kondisi bisa kembali membaik dan kehidupan bisa kembali normal. Namun, jika masyarakat masih saja kurang memperhatikan anjuran dan kebijakan pemerintah, apakah kebijakan ini akan memberikan dampak yang baik ke depannya atau bahkan bisa memberikan dampak yang lebih buruk?

Tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi sudah membantu kehidupan masyarakat dari berbagai aspek di masa pandemi COVID-19. Jika sebelumnya masyarakat hanya bisa berbelanja langsung, kini dengan kemudahan internet dan teknologi, masyarakat bisa berbelanja secara online. Di sektor pendidikan, pemanfaatan teknologi dan internet sangat terasa sehingga murid bisa belajar dari rumah. Anak – anak kuliah juga bisa belajar secara online dengan materi perkuliahan yang sudah disiapkan oleh dosen melalui aplikasi yang bisa menghubungkan banyak orang sekaligus. Tak hanya itu, rapat yang biasanya hanya bisa dilakukan dengan bertemu langsung dan bertatap muka, kini juga bisa dilakukan secara daring karena kemudahan yang disajikan oleh internet dan teknologi. Pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia sudah memberikan banyak pembelajan. Tak heran, saat hari pendidikan di tahun 2020 ini, tema yang diambil adalah “Belajar dari COVID-19”.

 

Muttaqin Kholis Ali,S.Pd. Guru Komputer di SMA Negeri 1 Tambangan, Kab. Mandailing Natal, merupakan Pegiat Literasi dan IT dan sedang menyelesaikan Pendidikan Magister di Profi PTK Universitas Negeri Padang, www.muttaqinkholisali.com 082285178213.

 

Share On :


Komentar

Emil

mantap bang


Balas
2021, Muttaqin. All Rights Reserved.